IBX5981FE7FCD958 Belajar Membuat Aransemen Pada Guitar

Belajar Membuat Aransemen Pada Guitar

Leave a Comment
Guitarsquartz.net- Ada berbagai macam definisi tentang aransemen. Dalam tulisan ini, yang saya maksud dengan aransemen adalah "menata dan memperkaya sebuah melodi, lagu, atau komposisi, yang sudah tersedia sebelumnya, ke dalam format atau gaya yang baru." Mediumnya bisa apa saja, dari instrumen tunggal hingga sebuah orkestra. Namun dalam topik tulisan ini kita batasi aransemen untuk gitar tunggal.

Membuat aransemen --menurut pendapat pribadi saya--- sebetulnya susah" gampang tenik dasar permain gitar.. kalau setau saya sih membuat komposisi dulu. Sebab, kita tinggal "memungut" bahan yang sudah ada. Sejak zaman manusia mulai kenal musik hingga zaman terkini ,ada jutaan melodi, lagu, dan komposisi yang bisa menjadi sumber pembuatan aransemen. Ambil contoh lagu rakyat. Dari Indonesia saja jumlah lagu rakyat amat banyak. Belum lagi lagu-lagu rakyat dari negara lain.


BENTUK PALING DASAR 


Bentuk/struktur paling dasar dari sebuah aransemen adalah memainkan melodi bersama dengan iringan (bas + rhythm). Biasanya dengan menambahkan intro dan coda Pada keyboard/piano tidaklah sulit. Pada gitar, hal ini tidak selalu mudah karena keterbatasan wilayah nada gitar. Karenanya, kita mesti coba mainkan dulu melodi lagu tersebut. Apakah not tertinggi dan terendah tercakup dalam rentang nada gitar? Jika tidak, coba ganti nada dasarnya. Bila masih belum bisa juga, kita bisa memenggal lagu ini. Pada bagian yang terlalu tinggi bisa diturunkan satu oktaf. Begitu pula sebaliknya.

Namun tidak semua lagu bisa dipenggal begitu saja. Juga perlu diperhatikan apakah tekstur melodi itu bisa dimainkan di gitar. Jalinan melodi yang terlalu njlimet dan cepat mungkin bisa dengan mudah dimainkan di piano, tapi tidak di gitar. Jadi, jangan memaksakan diri. Untunglah, masih lebih banyak lagu yang bisa dengan mudah dimainkan dengan gitar tunggal.


Bila melodi sudah bisa kita mainkan, langkah berikutnya adalah mencari chord. Bila lagu itu sudah ada di buku/majalah/internet lengkap dengan chordnya, tentu mudah. Sedikit susah bila kita mendengarkannya lewat rekaman. Namun bila kita sering melakukannya, lama-lama akan terbiasa. Cari chord-chordnya dengan benar. Kalau ada chord yang "misterius", cobalah mengutak-atiknya pada instrumen Anda. Tidak selalu dia punya susunan yang njlimet. Terkadang secara fisik dia sebetulnya chord sederhana saja. Misalnya chord Bm7-5 (B minor 7 minus 5) yang secara fisik adalah chord Dm dengan bas B

Melodi sudah bisa dimainkan pada gitar dan semua chordnya pun sudah diketahui. Maka selanjutnya adalah memilih jenis irama. Mau dua hitungan? Empat hitungan? Enam hitungan? Waltz? Cha-cha? Dangdut? Ballad? Mainkan dulu chord-chordnya dengan menggunakan irama ini. Masukkan pula pola ritme bas. Bila sudah lancar, cobalah mulai barengi dengan melodinya.

Masalah biasanya muncul saat kita memainkan melodi pada not-not tinggi. Kita harus menggunakan chord pada posisi-posisi yang dekat dengan letak jari kiri saat memainkan melodi tadi. Singkatnya, kita mesti tahu letak chord dalam berbagai posisi. Chord F, misalnya, selain pada posisi I juga bisa ditemui pada posisi III, V, atau VIII

Bagi yang belum terbiasa memainkannya langsung pada gitar, boleh saja menuliskan dulu not-not melodinya pada buku musik. Lantas tambahkasn not-not chord dan bas. Baru setelah itu baca dan mainkan.Karena keterbatasan jumlah senar, kita tidak selalu bisa membunyikan semua not yang terkandung dalam sebuah chord. Terkadang hanya dengan satu atau dua not, plus bas, kita sudah bisa mendapatkan hasil yang baik. Contoh: bila ada chord C, kita bisa membunyikan not C dan E saja. Sedangkan not G bisa diabaikan.

MEMPERKAYA ARANSEMEN 

Bila kita sudah memperoleh aransemen dasar, itu sudah bagus. Bila kita bisa memainkan dgn lancar  beat/ketukan yang rapi, siapa pun yang mendengarnya akan bisa emnikmati. Namun jika ingin memperkaya, kita bisa bermain "bongkar-pasang" pada elemen-elemen dasar musik. Yakni: pola-pola ritmik,  timbre, serta harmoni. Mari kita tengok satu per satu.


(1) POLA RITMIK
Yang saya maksud pola ritmik adalah pola-pola panjang-pendeknya not-not yang ada dalam aransemen. Baik itu pada melodi ataupun pada birama dasarnya. Contoh simpel pada melodi:  not 1  1 / 5  5 / 6 6/ 5 . / bisa kita ubah jadi  1 1_5 / 0  5_6/ 0  6_5/ 0 0/ atau bahkan lebih sederhana lagi 0_1  0 / 0_5  0 / 0_6  0 / 0_5  0 /. 
 
(2) TIMBRE 
Biasa juga disebut tone color atau warna suara. Biola dan gitar memiliki sejumlah teknik untuk menghasilkan warna suara berbeda. Pada gitar, perbedaan posisi jari kanan saja bisa menentukan warna suara lembut atau metalik (sul tasto dan sul ponticello). Beberapa teknik yang lazim digunakan: pizzicato, vibrato, slur (hammering dan pull-off), harmonik oktaf, dan strumming. Ada juga gitaris yang mempersiapkan khusus gitarnya agar bisa menghasilkan warna suara beda dengan memasang benda-benda tertentu pada senar gitar. Bisa lembaran kertas, selotip, paperclip, hingga jepitan jemuran!
Beberapa komposer gitar kontemporer memiliki cara-cara lebih ekstrem untuk memperoleh timbre unik, yakni dengan menggunakan sendok sebagai pengganti jari kiri atau kanan, membetot senar, hingga menggeseknya dengan kuku.

(3) HARMONI
Untuk praktisnya, saya mendefisikan harmoni ini sebagai "seni memilih dan meracik nada-nada yang berbeda untuk dibunyikan simultan ataupun yang berurutan". Lebih praktis lagi, harmoni adalah seni memilih dan menggunakan chord.  Termasuk pula di dalamnya tangga nada (scale) yang merupakan basis bagi pembentukan chord.  Berikut sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk memperkaya aransemen dengan "bermain-main" di wilayah harmoni 


a) Mengubah progresi chord 

Ambil contoh lagu Naik-naik ke Puncak Gunung. Bila kita memakai nada dasar C, maka progresi chordnya yang asli adalah C /C /C /C /G7 /G7 /C  /C .  Kita bisa mengubahnya, semisal menjadi C /Em bass B /Am /Am bass G  /F  /G7 /C.

 b) Memperkaya chord. 

Yang dimaksud adalah menggantikan chord mayor atau minor "polos" dengan chord-chord 6, 7, 9, 11, 13, dan sebagainya. Pengayaan chord ini umumnya dikombinasikan dengan perubahan progresi chord. Tentunya harus disesuaikan dengan karakter lagunya.
Masih terkait dengan pengayaan chord, bisa dicoba juga melakukan steman alternatif atau alternate tuning untuk menghasilkan chord-chord baru yang terkadang tak kita duga sebelumnya. Sejak zaman Renaisans hingga masa kini, ada saja musisi instrumen berdawai yang mengubah-ubah urutan tuning standar. Pada gitar, misalnya, ada puluhan alternate tuning yang pernah dikenal. Yang umum dipakai adalah (urutan dimulai dari senar terbesar): D-A-D-Fis-B-E, D-A-D-F-A-D, D-A-D-Fis-C-D,  D-G-D-G-B-D, D-G-D-G-Bes-D, E-B-D-Gis-B-E, dan sebagainya

c) Mengubah scale
Melodi dengan scale mayor, misalnya, bisa saja kita ubah jadi scale blues. Atau, jika memang cocok, bisa saja scale diubah jadi minor. Ada banyak sekali scale lainnya yang tersedia dalam khazanah musik. Dari yang modern sampai yang tradisional, dari yang berisi 12 nada sampai 3 nada.


d) Modulasi

Modulasi adalah pergantian nada dasar. Biasanya memberi efek "refreshing". Dalam ilmu harmoni, melakukan modulasi tidak bisa sembarangan. Ada aturan-aturannya, karena pergantian itu idealnya harus berlangsung mulus hingga pendengar tak merasa kaget. Contoh progresi chord yg kerap dipakai untuk "berpindah nada dasar" adalah IIm, V7, dan I, di mana I adalah nada dasar yang baru.
Contoh. Kita main di suatu nada dasar (apa pun), lalu mau pindah ke G mayor. Maka mainkan chord Am dan D7 sebagai "jembatan" menuju G. Maka Anda pun sudah berpindah ke nada dasar G.
Cara terpraktis mengenali variasi "jembatan" ini adalah dengan mendengarkan sebanyak mungkin komposisi/aransemen yang sudah ada. Bisa dari sonata-sonata Scarlatti dan partita-partita Bach hingga lagu-lagu jazz maupun pop dari musisi zaman sekarang. Saya, misalnya,  dulu berlajar banyak soal aransemen dari musik-musik yang mengiringi penyanyi2 tahun 80-an, seperti Vina Panduwinata, Chrisye, Oddie Agam, dsb, selain dari perbendaharaan lagu-lagu klasik dan jazze)

f) Variasikan tekstus 

Tekstur meliputi "ketebalan" maupun "kasar-lembutnya" jalinan antar-nada dalam aransemen. Kita bisa menciptakan tekstur "tebal", misalnya dengan membunyikan melodi, chord, dan bas sekaligus. Bisa juga kita membuatnya jadi "tipis", semisal dengan hanya menyisakan jalinan dua jalur melodi yang berjalan bersama atau bersahut-sahutan.Kesan "kasar" bisa diperoleh bila melodi, chord, dan bas lebih banyak berbunyi bersamaan. Sebaliknya, kesan "halus" bisa dicapai dengan mengurai melodi, chord, dan bas untuk berbunyi bergantian/bersamaan dalam pola-pola tertentu.

"BUMBU-BUMBU" LAIN

Di luar elemen-elemen dasar musik di atas, kita juga dapat "bermain-main" dengan tempo dan dinamika. Memperlambat atau mempercepat tempo, melembutkan dan mengeraskan volume, bisa menciptakan kesegaran pada aransemen kita.
Beberapa "bumbu" penyegar lain yang bisa dicoba:
Masukkan efek perkusi. Pada tubuh gitar, ada beberapa bagian yang bila dipukul bisa menghasilkan suara-suara berbeda. Juga ada beberapa teknik menciptakan efek perkusi pada senar yang bisa dicoba. Efek perkusi biasanya menarik perhatian penonton.Tepuk tangan, jentikan jari, hentakan kaki,  bahkan siulan, dan bebunyian lain dari mulut juga dapat dimanfaatkan untuk menambah daya tarik aransemen.

"MODAL"  YANG  DIPERLUKAN

Untuk membuat aransemen pada instrumen tunggal, ada beberapa  "modal" dasar yang kita perlukan.
(1) Tahu semua chord dan juga scale-scale pokok pada instrumen yang kita mainkan. Setidaknya mayor, minor, dan dominant 7th. Akan lebih menguntungkan bila kita juga kenal chord-chord yang lebih kompleks seperti mayor/minor 7, 11, 13, dan sebagainya.

(2) Memiliki bekal teknik yang memadai untuk bisa memainkan aransemen tersebut. Teknik memang bukan segalanya, namun ia merupakan medium atau "kendaraan" yang bisa mengantar ke tujuan kita, yakni menghasilkan aransemen/musik yang baik dan asyik didengar.

(3) Kenal, atau lebih bagus lagi sering menyimak berbagai genre musik. Baik itu dari musik tradisi, musik klasik, hingga aneka jenis musik industri.  Tontonlah macam-macam konser musik. Dengar dan pelajari aransemen-aransemen orang lain

(4) Meningkatkan terus pengetahuan dan wawasan musik. Untuk itu, ada banyak buku yang mesti dipelajari (teknik, teori musik) dan juga partitur serta rekaman musik yang mesti kita dengar (ada banyak sekali jenis musik di dunia ini yang mungkin sampai detik ini kita belum pernah mendengarnya). Manfaatkan internet untuk memelajari semua itu. Baik lewat e-book, artikel, hingga rekaman audio dan video.
Semoga catatan ini dapat memotivasi lebih banyak gitaris solo akustik membuat aransemen karya sendiri dan bukan sekadar menirukan permainan gitaris2 luar. Menirukan sangat baik karena kita bisa mengenali dan melajari teknik-teknik maupun gaya musik yang mereka gunakan. Meniru adalah proses belajar yang sangat dianjurkan. Namun pada akhirnya jika kita serius hendak menjadi gitaris, tentu harus memiliki karya sendiri. Lebih bagus lagi jika karya-karya itu memiliki ciri khas...oke cukup dulu yah ...
(Sebagai Sumbernya:

Jubing Kristianto





0 comments: